Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Selasa, 22 Maret 2011

Selasa, 22 Maret 2011

Negara Mafiokrasi

"Dalam negara yang segala lininya telah dikuasai mafia, rakyat harus selalu berusaha untuk menghindari urusan dengan aparat negara."
...

Oleh Mohammad Nasih
Dosen Pascasarjana Ilmu Politik UI, Pengurus Dewan Pakar ICMI Pusat

Baik buruk negara sangat ditentukan oleh siapa yang menjadi penye lenggaranya atau siapa yang mengendalikan para penyelenggara negara itu. Jika para penyelenggara negara dan orang-orang yang berkontribusi kepada berkuasanya para penyelenggara negara itu adalah orang-orang baik, negara bisa menjadi baik, demikian pula sebaliknya. Penyelenggara negara yang baik selalu berusaha agar rakyat mendapatkan kedaulatan. Atau, kalau toh tidak memberikan kedaulatan, tetapi memberikan tujuan hakiki kedaulatan itu, yaitu kemuliaan hidup kepada mereka, baik secara lahir maupun batin.

Dalam konteks untuk memberikan kemuliaan itulah seharusnya negara menjalankan peran optimal. Negara memiliki implikasi yang sangat besar terhadap kehidupan seluruh warga negara karena--sebagaimana dikatakan Roger Henry Soltau--memiliki wewenang dalam mengatur dan mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat.

Senada dengan Soltau, Harold J Laski mengatakan bahwa negara memiliki kewenangan yang bersifat mengikat dan memaksa warganya. Bahkan, Max Weber lebih tegas lagi dengan mengatakan bahwa negara memonopoli penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah. Negara bisa melakukan semuanya itu karena didukung oleh berbagai macam aparatus yang memiliki kekuatan represif.

Karena itu, prasyarat untuk membangun negara yang baik adalah adanya aparatur yang baik pula. Lalu, apa jadinya jika struktur-struktur negara dikuasai dan dikendalikan oleh para mafia? Tentu saja, negara yang dikuasai oleh mafia akan menunjukkan realitas yang se baliknya. Dunia hitam dan praktik-praktik yang menghalalkan segala macam cara terjadi di segala lini dan bisa dikatakan tak ada ruang yang disisakan oleh operasi jaringan mafia, "dari hulu sampai hilir".

Di Indonesia, yang namanya mafia peradilan, mafia kepolisian, mafia obat-obatan, mafia pajak dan bea cukai, mafia pendidikan, mafia perbankan, mafia pasar modal, mafia sumber daya alam (hutan, pertambangan, perikanan), mafia tanah, dan lain sebagainya, yang kalau ditulis satu per satu mungkin tidak akan cukup, sudah menjadi berita harian yang kemudian membuat masyarakat kehilangan keterkejutan. Mereka menguasai struktur-struktur negara dengan cara bersekutu dengan sebagian penyelenggara negara, atau bahkan kemudian langsung terjun ke dalamnya.

Demokrasi prosedural yang padat modal dijadikan sebagai pintu utama untuk masuk ke dalamnya dengan berkontribusi kepada para politisi yang sedang berkompetisi dalam pemilu. Yaitu, dengan cara menjadi penyandang dana atau secara langsung ikut memperebutkan kekuasaan yang lebih mudah didapatkan dengan menebar uang kepada rakyat yang terbuai oleh politik uang.

Dengan kekuasaan yang berada dalam kontrol mereka, mereka semakin leluasa melakukan berbagai macam pelanggaran hukum karena semua yang mereka lakukan itu tak terjamah oleh hukum. Bah kan, mereka kemudian bisa mendapatkan legalitas secara hukum. Itulah yang kemudian menyebabkan lembaga penegak hukum justru menghancurkan tatanan hukum karena diisi oleh orang-orang yang sangat mudah disuap oleh para mafia, atau bahkan mafia itu sendiri telah menguasai lembaga peradilan secara langsung.

Negara yang seharusnya merupakan perangkat untuk menginstitusionalisasikan kehendak bersama, kemudian tereduksi menjadi sarana untuk menginstitusionalisasikan kepentingan kaum mafia. Lahirlah negara dengan karakter yang tak hanya menindas, tetapi juga menghisap "darah" rakyat. Dalam banyak film, para mafia biasanya lebih sering digambarkan dengan ak si-aksi kejahatan yang menumpahkan darah secara langsung. Tapi saat ini, para mafia telah memiliki cara baru untuk menumpuk keuntungan material dengan cara yang labih lembut tanpa harus menumpahkan darah, tetapi sesungguhnya memiliki implikasi yang lebih dahsyat.

Para mafioso mengoptimalkan diri dalam menyabot harta kekayaan negara yang seharusnya digunakan oleh sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kekayaan negara itu, justru digunakan oleh mafia penyelenggara negara untuk memperkaya diri mereka. Itulah sebab, walaupun negeri ini memiliki berbagai kekayaan yang melimpah, tetapi kekayaan tersebut tidak akan menyebab kan kesejahteraan rakyat. Kekayaan tersebut hanya akan dinikmati oleh kalangan elite penguasa yang jumlahnya sangat terbatas.

Dan, setiap ada klaim pertumbuhan ekonomi, sesungguhnya itu hanya terjadi di kalangan yang sangat terbatas tanpa mengurangi jumlah warga negara yang sebelumnya mengalami kemiskinan absolut. Bahkan bisa jadi, pertumbuhan ekonomi terjadi bersamaan dengan peningkatan jumlah warga negara yang mengalami kemiskinan absolut.

Mafia sekarang ini telah melakukan kerjanya secara terorganisasi dan rapi, bukan lagi orang per orang. Mereka telah membangun jaringan yang rapi. Karena telah tersistematisasi itu, para mafia dapat mengarahkan segalanya sesuai dengan yang mereka inginkan. Inilah yang menyebabkan hukum tak dapat lagi ditegakkan dan terjadi berbagai pelanggaran yang tak tersentuh hukum.

"Walaupun langit runtuh, hukum harus tetap ditegakkan atas para pelaku kejahatan" sekadar menjadi slogan yang tak bisa dilihat realisasinya. Yang terjadi adalah sebaliknya, hukum dijadikan sebagai alat untuk meruntuhkan kedaulatan rakyat melalui proses-proses pembuatan kebijakan yang legal dan menjadi dasar legal bagi kedaulatan para mafia (mafikorasi). Kelihatan kontradiktif dalam logika hukum, tetapi itulah sesungguhnya yang terjadi.

Dalam negara yang segala lininya telah dikuasai mafia, rakyat harus selalu berusaha untuk menghindari urusan dengan aparat negara. Sebab, berurusan dengan aparat negara hanya akan menambah beban yang ditanggung menjadi semakin berat.

Sudah menjadi semacam pameo, jika kita kehilangan kambing, tak usahlah melaporkan kehilangan itu karena justru akan kehilangan sapi sebagai biaya mengurusnya dengan hasil yang tidak jelas. Dan, yang lebih baik rakyat membiasakan diri hidup tanpa negara. Wallahu a'lam bi al-shawab.

*sumber: Republika (22/3/11)

Kamis, 10 Februari 2011

Kamis, 10 Februari 2011

Toleransi

Lagi-lagi kita sebagai umat islam harus mengelus dada, Toleransi dan rasa kebersamaan kita di pertanyakan akibat dua kejadian berturut-turut yaitu di ciukesik Banten dan Temanggung dan harus kita akui itu hilang dari sebagian kita karena pelakunya adalah umat “islam”. Dua kejadian itu menambah deretan sekian banyak peristiwa yang harus diakui bahwa itu adalah tindakan yang anarkis dan tidak di perbolehkan dalam Islam yang saya pahami. Tapi haruskah semua rentetan kejadian-kejadian selama ini harus kita bebankan kepada Umat islam lalu mencapnya sebagai orang yang tidak mempunyai toleransi. Sungguh suatu hal naïf dan tidak adil jika demikain. Walaupun ini bukan pernyataan pembenar  atas tindakan anarkisnya. Karena sesungguhnya semua kejadian yang terjadi selama ini hanyalah merupakan akumulasi kekesalan sebagian umat Islam yang agamanya terus dihina dan dilecehkan sudah cukup   beban perasaan itu dipikul oleh umat Islam selama ini yang selalu saja di rongrong oleh pihak yang tidak suka dengan  Islam.

Berbagai cara dilakukan agar kesan beringas dan anarkis itu dilakukan dari mengajukan gugatan ke MK menyoal pasal penistaan agama yang di tolak, sampai tayangan media yang rasanya cukup tidak adil dan berimbang, sebuah tanyangan diskusi yang menghadirkan para pengacara itu memperlihatkan betapa kita umat islam dipojokkan tapi kalau ada dari agama lain yang berbuat sama maka bahasanya adalah oknum, seorang anggota dewan yang terhormat sampai-sampai harus mempersoalkan para ulama yang berpolitik sehingga katanya mengabaikan umatnya lantas membuat kita bertanya apakah semua ulama yang ada di DPR itu berasal dari ciukesik atau temanggung sehingga ia lupa akan dakwahnya ataukah beliau itu berpikir dakwah itu hanya sekedar ceramah saja di mesjid-mesjid atau taklim-taklim. Padahal DPR sendiri perlu di “dakwahi” karena sering menilep uang rakyat yang pada akhirnya sama membunuh rakyat.Tapi setelah membaca nama dan dan asal fraksinya saya menjadi mahfum dengan perkataannya karena beliau berasal dari partai yang cukup banyak bermasalah  dengan kasus korupsi dan asusilah maka kita mahfum saja atas ketidaksukaannya ada ulama di DPR karena takut di “dakwahi”  yang berakibat hilang kesenangannya selama ini.

Pernyataan anggota dewan yang lain sebagai pembenar kegamangan mbahnya yang tidak mau tegas membubarkan ahmadiyah  mengatakan bahwa didalam agamanya tuhan tidak perlu dibela karena tuhan adalah pembelanya, membuat kita juga harus mahfum karena ajaran tuhannya mengatakan kalau kamu ditampar pipi kirimu maka berikanlah pipi kananmu, nah loh…. Ada yang pernah berbuat demikian???  Maka atas dasar karena tuhan tak perlu dibela maka beliau dengan umatnya mau seenak udelnya melecehkan agama orang seperti  yang terjadi di temanggung, alor, malang dan beberapa tempat lainnya.

Belum lagi hostnya yang mempertanyakan ayat alquran surat Al kafirun, Untukmu agamamu dan Untukku agamaku kemudian melempar pernyataan lantas mengapa masih ada kekerasan kepada ahmadiyah, maka kita menjadi bingung sejak kapan ahmadiyah itu menjadi sebuah agama yang ada ahmadiyah mendompleng Islam kemudian menafsirkan alquran dan hadis seenak jidatnya, mengakui mbah ghulam sebagai nabinya padahal belum ada sejarah sebelumnya ada sebuah agama dengan 2 nabi semua hanya untuk kepentingannya, lantas karena terpojok kemudian mengalihkannya ke peristiwa temanggung tapi lagi-lagi kita harus melongo bingung apa hubungannya mempersilahkan menjalankan dan mengakui eksistensi sebuah agama yang tercermin dalam surat Al Kafirun ayat ke 6 itu dengan ketidakpuasan beberapa orang atas keputusan hakim menjatuhkan hukuman 5 tahun kepada orang yang telah menghina dan melecehkan agama orang dengan berbuat kerusakan,buset dah cara berpikiirnya lugu banget gitu loh.

Tidak hanya sampai disitu masih ada lagi anggota dewan yang terus menekankan aspek dialog dengan ahmadiyah seakan tidak pernah belajar akan sejarah panjang  ahmadiyah di Indonesia. Alih alih mematuhi SKB 3 mentri yang nota bene bukan mereka yang membuatnya, Tapi mematuhi 12 butir kesepakatan yang telah disetujuinya saja tidak mau, yang mengakibatkan ketidakpuasan umat islam sampai saat ini lantas jalan damai macam apalagi yang mau  di tempuh.apa harus berdamai saja kemudian menerimah ahmadiyah apaadanya kalau memang maunya seperti itu masih banyak umat islam yang lebih senang hidup di penjara sebagai bukti kecintaannya kepada agamanya.

Belum lagi para pengusung kebebasan itu selalu mati-matian membela Ahmadiyah dengan meneriakkan kebebasan berkeyakinan yang harus  di lindungi oleh Bangsa dan Negara tapi ketika ditanya tentang keyakinan umat Islam yang sedang di lecehkan dengan entengnya mereka berpendapat bahwa umat islam harus berbesar hati menerima perbedaan, seperti orang yang amnesia, ia lupa bahwa kebebasan berkeyakinan itu tidak boleh melecehkan agama mainstream yang sudah ada, maka janganlah bingung kalo ke sekian LSM pengusung kebebasan berkeyakinan itu gugatannya tentang undang-undang penistaan agama  itu di tolak oleh MK. 

Maka hanya ada 2 pilihan buat ahmadiyah kembali kepada Islam dengan perpedoman kepada al quran dan sunnah atau keluar dari Islam secara keseluruhan dengan membuat agama baru serta tidak menampilkan atribut dan simbol keislaman,maka akan berlaku bagimu agamamu dan bagiku agamaku dan buat pemerintah hanya satu memfasilitasi dua opsi di atas, jika salah satunya di terima oleh ahmadiyah tapi bila keduanya di tolak maka pemerintah harus siap untuk membubarkan ahmadiyah dan mencapnya sebagai organisasi terlarang dengan dasar keputusan MK karena jelas-jelas penodaan agama telah terjadi.

Lantas bagaimana dengan perilaku anarkis, rasanya kita semua akan sepakat kalau dibawa keranah hukum toh dari sekian banyak agama yang ada melarang kita untuk merusak apalagi membunuh terlebih lagi Islam membunuh hanya di perbolehkan ketika kita terancam nyawanya atau dalam keadaan perang itupun harus dengan ketentuan tidak boleh membunuh wanita dan anak-anak orang tua jompo, tidak di perkenankan merusak rumah ibadah dan menebang pohon. Dan semua itu tercatat dengan sejarah tinta emas sebagai panutan umat islam.

Tapi tentu dengan catatan bisa kah tidak membangunkan singa yang lagi tidur dengan cara seperti di temanggung dan tempat yang lain.

Rabu, 02 Februari 2011

Rabu, 02 Februari 2011

Training Motivasi Diri


Setelah beberapa hari fakum karena kesibukan yang begitu banyak akhirnya kesampaian juga untuk mengabarkan kegiatan yang baru saja dilaksanakan beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 30 januari 2011 bertempat di gedung dewan kab.Berau yang dihadiri sekitar 650 warga dari Tanjung Redeb dan sekitarnya yaitu Training Motivasi Diri dengan teman Metamorfosa Menuju Pribadi Islami.

Daurah yang terselenggara berkat usaha dari Yayasan As-Showah Al Islamiyah sebuah Yayasan pendidikan dan sosial Islam yang kali ini mengundang langsung Ust.Dedi Martoni dari Jakarta seorang Motifator yang begitu berpengalaman dengan seabrek kegiatannya di bidang pendidikan dan sosial.

Acara di pandu oleh akh Herman dan Safrudin selanjutnya dibuka dengan siraman kalbu yaitu pembacaan al Quran yang begitu merdu oleh al akhi Rahman yang membacakan surat Ali Imran 1-10. Yang di ikuti dengan kata sambutan oleh Al Ustadz  Drs Najamudin Lc selaku ketua Yayasan As Showah Al Islamiyah, yang pada penyampainyan mengucapkan terima kasih yang begitu besar dan mendalam kepada Ust. Dedi Martoni atas kesediaan beliau hadir di Berau ini beliau mengungkapkan bahwa dari pertemuan beberapa hari ini ternyata Ust. Dedi memang seorang ustadz yang Khabir bukan saja karena memang postur beliau yang tinggi dan besar tapi juga karena pemikiran beliau yang begitu luas dan beliau juga sangat berharap semoga dengan kesempatan beberapa hari ini kita bisa mengambil ilmu yang begitu bermanfaat dari beliau.

Dalam kesempatan itu pula beliau menyampaikan bahwa Yasasan yang telah lama hadir di kab. Berau ini telah banyak mengadakan kegiatan- Kegiatan yang bersifat Sosial dengan mengadakan daurah-daurah dan kegiatan sosial lainnya tentu semua ini bermuara pada satu kata yaitu meembina masyarkat berau menuju pribadi yang qurani. Selanjutnya rangkaian sambutan di tutup dengan doa oleh al ust. Zul Amri.

Rangkaian Materi Training dimulai dengan epilog yang di sampaikan oleh akh Safrudin yang sesekali dibungkus dengan banyolan-banyolannya yang sudah sangat terkenal di kalangan ikhwah yang lain mungkin karena dulu sebelum ngajar lama merumput bareng sule di ovj, (he he he afwan akh). Tema materi traning lebih banyak mengarah kepada keadaan kaum muslimin secara umum dan yang di Indonesia secara khusus dimana bisa kita lihat sangat jauh dari nilai-nilai islam yang di akibatkan adanya gasawul fikr atau perang pemikiran yang dilancarkar bangsa barat kepada dunia Islam tentu dengan trik-trik untuk menghadapinya acara di selingi dengan video-video yang selalu memotifasi serta membuka wawasan berpikir kita dan beberapa game ringan yang membuat kita tetap semangat.acara traning ditutup dengan renungan yang di sampaikan langsung oleh Ust. Dedi yang membuat suasana begitu hening dan taklama kemudian muncul suara isak-isakan, rupanya ada yang tak sanggup menahan airmatanya.

Setelah penyampaian materi training telah selesai  rangkaiaan acara keseluruhan ditutup Al Ustadz Asmulyadi Lubis Lc,MA selaku Ketua Panitia pelaksana. Ustadz luwes dengan wawasan yang luar biasa ini lulusan Sudan dan Al Ahzar Mesir sekaligus juga kandidat doctor di bidang yang sama yaitu Ushul Fiqh. Oleh karena itu sebuah kebanggaan kita sebagai masyarakat Berau beliau bisa hadir dengan segudang Ilmu di tengah-tengah kita terlebih saya pribadi yang bisa belajar langsung dari beliau. Dalam penyampaiannya beliau menyampaikan bahwa training ini adalah tahap awal dalam sebuah proses menuju pribadi yang Islami dan selanjutnya akan masih ada lagi kegiatan-kegitan serupa dengan jadwal yang akan di sesuaikan dengan kondisi pribadi kita bisa kegiatan bulanan atau mingguan di samping kegiatan yang sudah ada yaitu pembahasan tafsir, sirah atau ushul fiqih yang telah lama berjalan.

Belajar adalah sebuah kata yang pemaknaanya adalah proses tapi uniknya proses itu tidak akan ada hentinya karena sampai kapanpun belajar akan tetap menjadi kebutuhan terlebih lagi belajar memahhami agama kita ini sebagai bekal kita menghadap Allah Swt, Rabb Seluruh alam semesta.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates