Aku Masih Disini Untuk Setia
Apa kabar hatimu? Masihkah ia seperti embun? Merunduk tawadhu dipucuk- pucuk daun? Masihkah ia seperti karang? Berdiri tegar menghadapi gelombang ujian. Apa kabar imanmu? Masihkah ia seperti bintang? Terang benderang menerangi kehidupan.
Pandu Keadilan Berau
Memaknai proses adalah lebih berharga ketika kita terus di hadapkan dengan tujuan akhir, bukankah belajar dari setiap detik pengalaman akan menjadi kita lebih menghargai setiap usaha kita
Semangat Karena Allah
Ada yang mengeluh, merasa jenuh, ingin gugur dan jatuh ia berkata “lelah!”. Ada juga yang lelah, tubuhnya penat tapi semangatnya kuat. Ia berkata “lillah!”, karena Allah, Ikhlaskanlah. Tetap semangat pejuang-pejuang Allah
Inilah Jalan Kami
Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berda di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan. Keep istiqomah
Biduk Kebersamaan
Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah di antara kita yang tersayat atau terluka ? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.
Kamis, 08 Desember 2011
Kamis, 08 Desember 2011
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Kamis, 10 Februari 2011
Kamis, 10 Februari 2011
Toleransi
Lantas bagaimana dengan perilaku anarkis, rasanya kita semua akan sepakat kalau dibawa keranah hukum toh dari sekian banyak agama yang ada melarang kita untuk merusak apalagi membunuh terlebih lagi Islam membunuh hanya di perbolehkan ketika kita terancam nyawanya atau dalam keadaan perang itupun harus dengan ketentuan tidak boleh membunuh wanita dan anak-anak orang tua jompo, tidak di perkenankan merusak rumah ibadah dan menebang pohon. Dan semua itu tercatat dengan sejarah tinta emas sebagai panutan umat islam.
Jumat, 19 November 2010
Jumat, 19 November 2010
Kitab Tanpa Judul
Kemudian kita para audiensnya (baca:rakyat Indonesia) mulai dengan semangat untuk ikut nimbrung membahasnya mulai dengan gaya bicara yang polos mungkin seperti penulis ini, atau sekedar nimbrung mengimbangi lawan bicara yang sudah ada atau bahkan sampai gaya bicara tingkat tinggi yang seperti seorang pengamat atau praktisi yang sudah tahu dan kenal betul permasalahan yang ada.
Itulah kita dengan dinamika yang ada, urusan bermanfaatkah apa yang kita sampaikan adalah urusan keseratus yang penting unek unek tersalurkan dan emosi kita mendapat lawan yang setimpal.
Belum lagi di tambah krisis lokal bbm susah, ingin menjadi pelanggan PLN saja harus inden sampai 2 tahun atau pasangan PDAM yang tidak pernah jelas.Padahal kita hidup di atas batu bara kita hidup di kelilingi sungai,maka emosi pun membuncah walaupun hanya di dukung logika jongkok.
Semuanya membuat kita terkondisikan sehingga muncullah para kritikus,pengamat,bahkan praktisi dadakan seperti penulis ini.seperti jamur di musim hujan atau daun yang bergugran di musim gugur tetapi ketika musim berganti maka berganti pulalah fenomena alamnya padahal bisa jadi tahun depan musimnya datang lagi.
Mengkritik, menghina, atau bahkan sampai mencaci maki adalah sudah biasa bahkan dengan dalih untuk perbaikan padahal tanpa kita sadari bibit-bibit apa yang selama ini kita anggap salah atau melenceng telah kita tanam sendri, karena orientasi berpikir kita selalu dalam skala nasional.Tentu bibit yang kita tanam tidak pernah bisa berdampak nasional karena ruang lingkup kehidupan kita adala lokal maka dampaknya pun hanya seputar kehidupan kita sehari hari.
Padahal tidak ada jaminan kita yang selama ini selalu mengkritik, menghina, atau bahkan sampai mencaci maki bisa lebih baik dari mereka apabila suatu saat nanti amanah itu kita pegang.
Sebabnya dalam dalam ruang lingkup lokal saja kita yang setiap ada waktu selalu menyempatkan memngkritik juga tidak bisa berbuat apa apa ketika ada pelanggaran terjadi di depan mata kita padahal bisa jadi secara otoritas kita punya kuasa untuk menghentikan dan member sanksi, memang rasa persaudaraan senasib dan sepenanggungan telah menutup mata hati kita untuk lebih rasional dalam urusan penegakkan aturan.apalagi kalau sampai duit yang berbicara maka gayus pun bersambut.
Atau mungkin dua kasus yang bisa di bilang sama bentuk dan akibat yang ditimbulkan tetapi mendapat putusan yang berbeda bagaikan langit dan bumi,hanya karena kecintaan orang per oerang sehingga tertutuplah hati kita untuk berbuat adil.
Atau juga mungkin kita sangat tidak suka dengan kelakuan para aparatur Negara yang mau di suap padahal kadang kadang kita juga mau nyuap walaupun dalam skala yang lebih kecil, urus ktp dan sim misalnya.
Maka potret kita selama ini terjawab sudah kita juga termasuk gagal.
Namun ketika ada yang merasa harus bisa menembus batas keburukan yang sudah mentradisi ini maka jadilah ia kitab tanpa judul yang di pandang sebelah mata.
Ironis memang..
Sabtu, 24 April 2010
Sabtu, 24 April 2010
Toleransi Di Tempat Kerja


Kamis, Desember 08, 2011
anak desa blog's



